Apakah Jin mengetahui ilmu Ghaib?

Oleh: Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsi Al-’Ilmiyyah wal Ifta.

Pertanyaan:
Apakah Jin mengetahui ilmu ghaib? Kami mengharap penjelasan dari Antum dalam waktu yang tidak lama.

Jawaban:
Ilmu ghaib termasuk kekhususan dalam kerububiyahan Allah, maka tidak ada yang mengetahui ilmu ghaib di langit maupun dibumi kecuali Allah. Allah berfirman dalam Surat Al-An’am 59

… continue reading this entry.

Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis

Tema Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja, namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا

“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً

“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ
… continue reading this entry.

Air Kencing Bayi dan Masa Menyusui Anak

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Saya memiliki anak balita yang sekarang sudah berusia + 4 bln dan sudah saya kenalkan makanan tambahan. Seperti halnya anak kecil yang lain, dia suka ngompol di kasur (tempat tidur). Yang ingin saya tanyakan :

1. Jika menurut saya kasur tsb sudah kering, bolehkah saya sholat menggunakan pakaian sholat saya yang sebelumnya saya pakai duduk atau berbaring di kasur tsb? Apa alasan dan dasarnya? Jika saya tidak menggunakan pakaian (jawa: ote-ote) dan berbaring di kasur tsb, apakah boleh saya langsung wudhu aja saat akan melakukan sholat?

2. Berapa lama menurut islam sebaiknya seorang ibu menyusui anaknya?

Demikian, Terima kasih atas bantuannya dan mohon maaf jika ada kesalahan.

Wassalamualiikum Wr. Wb.

Sunaryadi

Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Kencing bayi, baik yang sudah diberi makanan tambahan atau belum adalah najis. Hanya masalah cara mencucinya yang menjadi pembahasan fuqoha. Bila bayi lelaki belum diberi makanan tambahan, maka cukup dengan percikan air, namun untuk bayi perempuan atau bayi lelaki yang sudah diberi makanan tambahan harus dengan dicuci, sesuai hadist Ali r.a. Rasulullah bersabda “Kencing anak perempuan harus dicuci, kencing anak lelaki cukup diperciki air”(H.R. Ashab Sunan, diperkuat dengan beberapa riwayat Bukhari dan Muslim).

Bila tempat yang tekena kencing sudah kering, pakaian yang menyentuh tempat tersebut bila sama-sama kering, tentu tidak menjadi najis, karena sesuatu menjadi najis bila ada esensi najis menempel padanya, dimana ini terjadi pada saat basah.

Berbaring pada kasur yang terkena najis dengan tanpa pakaian, ini perlu diperhatikan apakah badan saudara berkeringat atau tidak, bila berkeringat tentu karena kondisi basah akan menyebabkan najis menempel di badan saudara, maka seharusnya membersihkan badan saudara dengan manyiram air.

Menurut Islam, seorang ibu menyusui sebaiknya dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 233 :”Para ibu hendaknya menyusui anaknya selama dua tahun penuh, itu bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan”.

Wassalam

Muhammad Niam
Sumber : Pesantrenvirtual.com

Bolehkah Dakwah dengan Cerita Fiktif?

Dakwah dengan metode bercerita dalam bentuk cerpen dan novel misalnya disebut dalam ilmu dakwah sebagai Dakwah bil Qashash atau bil Hikayah, artinya berdakwah dengan cara bercerita. Kata qashash yang bermakna kisah atau cerita dengan segala derivasinya diungkap dalam Al Quran tidak kurang dari 18 (delapan belas) kali. Dan hampir semua kata tersebut ditujukan agar kita mau mengambil pelajaran atau hikmah dari kisah-kisah tersebut. Misalnya kita bisa cermati ayat berikut. ”Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. …” (Q.S. Huud 11: 120). Ayat ini menegaskan bahwa fungsi kisah atau cerita adalah untuk menambah keteguhan hati. ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf 12: 111). Di sini, Allah swt. menegaskan bahwa kisah berfungsi sebagai sarana pencerahan akal atau intelektual.

Kalau kita cermati hampir sepertiga Al Quran itu isinya adalah al qashash (cerita-cerita yang mengandung hikmah). Hal ini sesuai dengan tabiat manusia sebagai Homonarran (mahluk yang suka bercerita dan suka mendengarkan cerita). Jadi, teknik dakwah dengan bercerita itu sesui dengan fitrah manusia sebagai Homonarran. Nah, teknik inilah yang akan pembaca dapatkan dalam kumpulan cerpen ini.

Di antara kelebihan dakwah dengan teknik qashash (bercerita) adalah tidak terkesan ”menggurui” tapi lebih banyak mengajak berpikir. Allah swt. memerintahkan agar dakwah itu dilakukan dengan bijaksana, menggunakan kalimat-kalimat santun, dan jangan mengejek tapi harus mengajak.

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl 16: 125).

Bertolak dari analisis ini bisa kita simpulkan bahwa berdakwah dengan cara bercerita dalam bentuk cerpen, cerber, novel, dan sebagainya adalah dibolehkan selama kandungan cerita tersebut mengandung hikmah atau pelajaran bagi kehidupan dan tidak mengandung anjuran pada kemaksiatan.

Wallahu A’lam.

Sumber : www.percikaniman.org

Mengapa Kita Tidak Boleh Meniup Makanan yang Panas ?

Seringkali kita melihat, seorang Ibu ketika menyuapi anaknya makanan yang masih panas, dia meniup makanannya lalu disuapkan ke anaknya. Bukan cuma itu, bahkan orang dewasa pun ketika minum teh atau kopi panas, sering kita lihat, dia meniup minuman panas itu lalu meminumnya. Benarkan cara demikian?

Cara demikian tidaklah dibenarkan dalam Islam, kita dilarang meniup makanan atau minuman. Sebagaimana dalam Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dan ternyata dari salah satu milis kimia di Indonesia, ada yang menjelaskan secara teori bahwa : apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2 yaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic (berarti kalo kita meniup makanan/minuman panas sama dengan minum cuka) .

Dan perlu kita ingat juga bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita ketika minum seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas, hal ini juga dilarang, ternyata saya baru tahu sekarang hikmahnya, bahwa ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas.

Ulasan ini mungkin bukan hikmah keseluruhan, karena Ilmu Allah tentu Maha luas dari ilmu manusia, bisa jadi itu adalah salah satu hikmah dari puluhan hikmah lainnya yang belum terungkap oleh manusia. .

Sumber : hendra-prasetyo.blogspot.com

« Entri lama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.